Showing posts with label short_story. Show all posts
Showing posts with label short_story. Show all posts

2.4.08

Nostalgia

Sunyoto memandang wajah Surti yang duduk persis didepannya dengan perasaan yang berkecamuk. Dia tak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat itu, antara perasaan senang dan takut. Senang karena setelah tiga tahun berlalu, Sunyoto tiba-tiba bertemu kembali dengan mantan kekasihnya waktu di Jogja dahulu. Sementara Sunyoto pun takut dengan perasaannya sendiri. Takut dosa, takut disebut seorang pengkhianat atau bahkan seorang penjahat yang merampas milik orang lain meskipun wanita yang kini berada didepannya itu memang pernah jadi miliknya walaupun memang belum sepenuhnya.

Ya, Sunyoto masih ingat betul saat-saat manis bersama Surti beberapa tahun silam. Hidup penuh warna, penuh arti, penuh semangat, penuh hasrat, penuh keindahan. Memang ada hal yang mengganjal hubungan mereka. Orang tua Surti tak setuju hubungan mereka dengan alasan yang klise yang mungkin memang dianggap wajar bagi sebagian orang tua. Tidak sepadan lah, anak orang miskin lah. Tapi Sunyoto tak patah arang dengan sikap orang tua Surti. Dengan sedikit main belakang, Sunyoto bertekad membuktikan bahwa ia mampu berbuat lebih, bisa menjadi orang dan sanggup membahagiakan Surti. Namun belum sempat semua itu terwujud, Sunyoto dan Surti harus berpisah ditengah jalan. Surti dijodohkan dengan seorang pengusaha dari semarang yang cukup terpandang. Ya memang jauh bila dibandingkan dengan Sunyoto yang saat itu hanya seorang kepala produksi sebuah perusahaan roti. Sedang Surti sendiri tak mampu melawan kehendak orang tuanya. Akhirnya setelah Surti menikah, Sunyoto tak lagi bisa bertemu dengan Surti. Surti ikut suaminya ke Semarang, sedang Sunyoto meneruskan perjuangannya di Jogja.




Perjuangan Sunyoto yang tak kenal putus asa akhirnya membuahkan hasil juga. Sekarang ia bukan lagi seorang kepala produksi, tapi ia mempunyai usaha roti sendiri yang sudah cukup maju dengan membuka beberapa cabang. Tentang Surti, mau tak mau ia pun harus melupakannya. Sunyoto mempersunting Rani, anak seorang anggota DPRD. Cukup hebatlah bagi seorang Sunyoto, tapi tak bisa dipungkiri, jauh didalam hatinya masih tersisa sedikit ruang untuk memprasastikan kenangannya bersama Surti.

Untuk mengembangkan usahanya, Sunyoto berniat membuka cabang di Semarang. Maka iapun berangkat untuk survey pasar serta mencari lokasi yang kira-kira cocok. Ketika makan disebuah restoran, sesuatu yang tak pernah terlintas dalam benak Sunyoto terjadi, ia bertemu dengan Surti. Gejolak rindunya yang selama ini tersimpan membuncah seketika. Kenangan masa lalunya berderet-deret di jidatnya. Arsip-arsip yang sudah dia kubur bertahun-tahun seakan menumpuk kembali diatas meja kerjanya. Kegembiraan diwajah mereka tak bisa disembunyikan meski status mereka memang sudah lain. Surti ternyata punya usaha sendiri juga, ia mendirikan beberapa butik di kota Semarang. Anaknya sudah tiga, laki-laki semua. Setelah ngobrol beberapa saat akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu lagi esok hari setelah sebelumnya saling tukar nomor hape.

Keesokan harinya seperti janji kemaren mereka bertemu lagi. Tapi pagi Surti mengirim pesan agar Sunyoto menjemputnya di salah satu butik Surti. Sunyoto melarikan mobilnya menuju hotel tempatnya menginap. Hanya sekedar ngobrol mungkin, biar lebih privacy, batin Sunyoto. Sebenarnya jauh didalam hatinya pun ia mengakui bahwa ini suatu kesalahan. Ini memang sudah bukan masa dulu lagi dimana aku masih menjadi kekasihmu Surti, batin Sunyoto. Status kita sudah berbeda, kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Kita sudah punya ruang sendiri yang berbeda meski aku tahu kita tak akan pernah bisa membuang perasaan yang pernah kita rangkai bersama. Dan apakah kita salah jika kita sedikit mengobati rasa rindu ini, Surti?

Sunyoto masih ingat perkataan temannya ketika tadi malam ia curhat soal pertemuannya dengan Surti – Pertemuan ini hanyalah sebuah kalimat yang tersusun dari beberapa kata-kata. Dan kalimat ini adalah sebuah puisi indah yang pernah kalian buat. Jagalah puisi itu hanya didalam batin. Jangan biarkan ia seronok. Keluar dari hati merasuki jasadmu, merasuki nadi ditanganmu, didadamu, dikepalamu dan disekujur tubuhmu. Kalian tak mungkin melakukan puisi itu secara jasmaniah dan kultural. Maka peliharalah puisi itu hanya dalam hati jika kalian tak mau puisi itu pergi.

Sunyoto kembali menatap Surti. Perasaannya masih berkecamuk dan tahu apa yang harus dilakukan dikamarnya ini. Antara rasa rindu dan kesadaran untuk menyadari saling bertabrakan. Membentur dinding-dinding hatinya yang bergejolak.
Surti menatap Sunyoto sambil tersenyum. Manis. Masih seperti senyum yang dikenal Sunyoto beberapa tahun silam. Dan justru senyum itulah yang bisa merontokkan ketegaran Sunyoto. Blaik!
“Kenapa diam saja Mas Yoto? Apa nggak rindu sama aku. Kita kan sudah lama tak ketemu, masak aku didiemin begitu saja. Memangnya aku ini patung…?”
Surti menggengam tangan Sunyoto. Buummm!! Sunyoto merasa seperti disengat aliran listrik 1000 V. Menyentak jiwanya. Tangan Surti seperti mengalirkan hawa lain yang merasuki tubuh Sunyoto.
“Eh nggak, nggak apa-apa kok.” Sunyoto tergagap. “Aku Cuma masih belum percaya kita tiba-tiba bertemu lagi.”
“Iya. Terus kenapa Mas Yoto menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berdiam diri?”
“Aku nggak tahu mesti ngapain?” Pertanyaan Sunyoto yang lugu membuat Surti tersenyum.
“Ya ngapain kek. Cerita soal keluarga, usaha, kenangan kita atau apalah.” Surti memeluk tubuh Sunyoto dengan erat. Erat sekali. Sunyoto terbelalak. Kaku. Diam. Surti bisa merasakan dengusan nafas Sunyoto yang memburu. Entah apa yang ada lama pikiran Sunyoto.

Beberapa saat mereka diam dalam posisi seperti itu. Sempat terlintas dalam benak Sunyoto, wajah Rani, istrinya. Lalu teringat kata temannya. Lalu masa lalunya dengan Surti. Lalu ombak besar kerinduan datang menghempaskan tubuh Sunyoto dan Surti ke tempat tidur. Merapatkan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang panjang. Melucuti pakaian mereka. Meneteskan keringat mereka. Menghancurkan puisi mereka yang indah.

Beberapa saat kemudian, setelah tersadar dengan apa yang barusan terjadi, Sunyoto terdiam, menatap langit-langit kamar, sementara disampingnya Surti terbaring sedikit terisak. Sunyoto bangkit. Berjalan menuju kamar mandi. Ia berdiri termenung, menatap wajahnya yang memantul dicermin.
“Apa yang barusan aku lakukan?” gumam Sunyoto. “Aku telah melakukan kesalahan besar. Aku telah menghancurkan puisiku yang indah. Maafkan aku Surti.”
Tiba-tiba dada Sunyoto terasa sesak sekali. Ia terhuyung-huyung lalu terjerembab ke lantai kamar mandi.

Semarang, 18 Januari 2007
-----------------


Ini cerpen lama yang aku tulis. Yah aku posting ajalah buat nambah arsip. Tapi disisi sebuah arsip, ada satu pesan dalam cerpenku ini, ' bagaimana orientasi masa lalu harus kita terapkan pada masa sekarang". Apakah perlu sejarah membelenggu kita bahkan menghancurkan kehidupan kita yang mungkin 'bisa' lebih tenang.

Ada sebuah tulisan dafa tentang masa lalu :
Ketika suatu hubungan tidak dilandasi oleh kejujuran, kemunafikan akan semakin meraja-rela. Itulah pentingnya kejujuran dan kebenaran tetapi kitaterkadang tidak melakukanya dengan pasangan kita....
....... saling menanamkan kepercayaan dalam hubungan, memberikan pandangan umum bahwa ikatan itu penting, jujur apa adanya dan memberitahukan masa lalu,menjamin dirinya mengetahui secara penuh dan jangan meninggalkan rasa penasaran.
...... ketika kita menyembunyikan sesuatu di masa lalu dari pasangan atau hanya “lupa” mengatakannya, anda akan telihat bersalah ketika hal itu muncul dalam hubungan.

Monggo... lanjutkan hidup Anda menjadi lebih tenang dan energik.
Keep faith n honestly!!

30.3.08

Tertipu

Kutu kampret!!
Aku pasti sudah terjerembab ke selokan kalau tanganku tak reflek meraih batang mahoni didekatku. Siapa yang menaruh batu sebesar kepala kerbau itu dipinggir jalan umum. Kalau saja tahu orangnya, sudah tak lempar batu ini ke mukanya. Dadaku bertambah sesak. Jengkel bercampur marah tak karuan, bersatu padu menaikkan tensi darahku hingga ke ubun-ubun.
Tapi mungkin salahku juga, jalan gak liat-liat. Gimana mau lihat jalan kalau pikiran gak tenang, kacau, marah, jengkel, resah, gondok. Ini semua gara-gara Marini. Kalau saja hari ini aku tidak ketemu dia di terminal, tidak mungkin dia mengatakan, “Mas Asep, kita akhiri hubungan kita sampai disini saja ya…!?”

Huh!! Apa salahku? Padahal kemarin malam minggu waktu aku ngapel kerumahnya dia baik-baik saja, bahkan aku dan Marini masih sempat berpelukan mesra. Marini pun malah sempat ngomong rencana masa depan.
“Kalau kita jadi menikah, Mas Asep mau punya anak berapa?”
Aku mengernyitkan dahi. Ada-ada saja pertanyaan Marini, wong nikah aja belum sudah merancang jumlah produksi anak.
“Tergantung”, jawabku singkat dan padat, sepadat dada Marini yang sesekali kulirik dengan ujung mataku.
Marini menatapku,”Tergantung apanya?”
“Tergantung kamu kuat melahirkan anak berapa.”
“Ya, kalau itu ditanggung, satu kesebelasan pun aku sanggup”, Marini ngakak. “Mas Asep sendiri kuat gak?”
Hehe. Aku tersenyum dalam hati.
“Jangan tanya soal itu. Meski aku belum pernah nyoba itu, tapi nih…” Aku memperlihatkan otot lenganku yang lumayan kekar karena keseringanku fitness. “Ditanggung kamu bakal kewalahan…”
“Mas bener-bener saying sama aku kan?”
“Sayaaaaang banget.”
“Apapun yang terjadi?”
“Apapun. Kamu sudah peot pun aku tetep sayang sama kau kok.”
Marini ngakak lagi. Ketawanya lepas dan wajahnya nampak ceria. Karena wajahnya yang tak pernah sedih itulah yang selalu bikin hari-hariku menjadi ceria. Makanku jadi enak, tidur nyenyak, kerjapun lancar.

Tapi pagi ini tiba-tiba semua hancur berkeping-keping. Kepergian Marini ke Jakarta ternyata menjadi akhir hubunganku yang sudah terjalin empat tahun. Bis Nusantara yang dinaikinya seakan membawa segalanya yang pernah ku miliki. Sempat kulihat kaca bis belakang ada tulisan “TINGGAL KENANGAN”, ah kenapa bis ini pun mesti ikut-ikut menyindirku. Huh! Ya, semua memang tinggal kenangan. Yang membuat aku jengkel dan marah, Marini tak mau mengatakan alasannya mengapa harus putus, padahal aku sudah bilang kalau aku sanggup menunggunya kembali kapanpun.
“Mas, kalau jalan jangan sambil ngalamun. Dibawah ada tai kebo, tar keinjek lho.”
Brengsek!! Penunggang sepeda ontel yang melintas disampingku membuyarkan lamunanku. Tapi benar juga, di pinggiran aspal tepat didepanku ada tai kebo sebesar mangkok bakso terhidang. Untung gak buntung dua kali. Slamet, slamet.

Hari sudah mulai panas. Kulirik jam butut hadiah Marini yang setia melingkar dipergelangan tanganku. Sudah jam sembilan kurang seperempat. Wah aku harus cepat-cepat nyampe pasar nih kalau gak mau kehabisan bahan belanja. Biasa, terigu, gula, tempe, tahu, pisang, kol, wortel dan minyak goreng. Kerjaanku kan memang penjual gorengan. Tiap sore aku dorong gerobak beserta bahan gorengan lengkap yang paginya aku beli di pasar, mangkal dipinggir jalan yang kebetulan berada di depan rumah Marini, makanya aku kenal sama dia, bahkan sampai berlanjut pacaran karena seringnya bertemu. Mungkin seperti pepatah jawa “witing tresno jalaran saka kulina”.

Aku stop angkot yang melintas. Penumpang penuh sesak, aku kebagian duduk mepet didekat pintu. Lumayan, angin berhembus masuk kesela-sela kaosku, jadi gak terasa begitu panas. Selang sepuluh menit berjalan, angkot berhenti dan saat kulongok ke depan, eh semua mobil berhenti juga. Ada apa nih?
“Ada apa Mas?” aku tanya mas-mas yang sedang berdiri dipinggir jalan.
“Itu Mas ada bis tabrakan sama truk.”
“Parah Mas?”
“Kayaknya sih…”

Wah pasti lama nih, pikirku. Pasar tinggal deket lagi, mending jalan kaki aja deh daripada nunggu angkot jalan belum tahu kapan. Aku menyerahkan dua lembar ribuan ke sopir angkot lalu aku berjalan menyelinap diantara mobil-mobil yang sedang menikmati kemacetan.
Tak berapa lama aku sampai ke tempat terjadinya kecelakaan. Bis Nusantara melawan truk pengangkut pasir. Depan bis ringsek tak beraturan, kemungkinan sopir dan penumpang yang didepan pasti tak selamat. Moncong truk pun ringsek, bahkan posisinya miring bersandar pada tiang listrik. Beberapa orang polisi dan petugas medis tampak mengevakuasi korban. Aku berjalan lebih mendekat lagi. Astaghfirulah!! Jantungku berdegup kencang ketika melihat kaca belakang bis. Terpampang tulisan “TINGGAL KENANGAN”. Jangan-jangan…!!! Aku terlonjak lalu meloncat kearah para medis yang sedang mengevakuasi korban.

Para korban yang meninggal di teras sebuah toko emas hanya ditutupi kain seadanya, sedang yang luka langsung di bawa ke rumah sakit. Aku memeriksa korban-korban yang tergeletak kaku dengan jantung yang berdebar tak karuan. Aku tak berharap seperti yang aku bayangkan. Namun ketika melewati sesosok tubuh dengan kepala bersimbah darah dengan memakai baju biru, tubuhku terhuyung kebelakang.

Marini!!! Jantungku seperti lepas dari tempatnya. Kenapa ini terjadi padamu Mar? Aku rela kita putus, tapi tak seharusnya kamu meninggalkan aku selamanya. Aku tergugu tak bisa menahan perasaan didalam rongga dadaku ini.
“Mas keluarganya?” tanya seorang paramedis mengagetkanku.
“I iya Pak, saya temennya.”
“Kalau begitu tolong hubungi keluarganya supaya mengurus korban di rumah sakit.”
“Iya pak, segera saya hubungi keluarganya.”
“Maaf mas, korban tadi masih memegang amplop ini, mungkin penting. Tolong sampaikan kepada keluarganya.”
Aku menerima amplop itu. Warna putih dengan bercak darah disana-sini. Mataku terbelalak ketika dibagian depan amplop tertulis namaku, “Kepada Mas Asep”.
________________

Suatu sore yang cerah, seminggu setelah kepergian Marini, aku duduk diteras rumahku. Sengaja seminggu ini aku tak melakukan aktivitas seperti biasa, jual gorengan. Ini aku lakukan sebagai penghormatan atas kepergian Marini yang begitu tiba-tiba.
Tanganku menggenggam amplop yang ditemukan waktu kecelakaan. Dengan hati-hati aku robek ujung amplop lalu aku keluarkan isinya. Beberapa saat kemudian aku menekuri tulisan Marini yang rapi.

Buat Mas Asep
Yang masih sangat aku sayangi

Maaf mas kalau keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita yang secara tiba-tiba dan tanpa alasan membuat Mas Asep kecewa, marah bahkan sakit hati kepada Marini. Tapi sungguh mas, aku tak ada maksud seperti itu. Aku tak sanggup untuk jujur secara langsung kepadamu mas, maka aku menulis surat ini dan akan aku kirimkan setelah sampai di Jakarta.
Silakan Mas Asep akan membenci Marini seumur hidup setelah mendengar kejujuran Marini. Mas, aku sebenarnya telah hamil 2 bulan. Pasti mas bertanya hamil sama siapa, padahal Mas Asep pun tak pernah berbuat. Ini memang kesalahanku mas, ya aku salah besar telah mengkhianati cinta tulus Mas Asep. Aku terlalu mudah dibujuk dan dirayu oleh syetan. Aku terlalu lemah sebagai seorang wanita. Aku terlalu kotor dihadapan Mas Asep yang begitu baik. Maka dari itu, lebih baik kita akhiri hubungan kita yang tak sepadan ini, aku yakin mas pasti mendapatkan ganti yang lebih baik lagi. Lupakan aku mas dan segala kenangan tentang kita.
Itu saja mas surat dari aku. Mas Asep tidak perlu tahu siapa ayah dari yang aku kandung ini dan memang gak ada yang tahu selain aku sendiri. Yang jelas, tujuanku ke Jakarta adalah menemukan ayah dari bayi didalam rahimku. Terima kasih atas kebaikan mas Asep selama ini.

Salam sayang,
Marini

Aku remas surat itu lalu kukepal dalam genggamanku. Aku memandang ufuk barat yang mulai kekuningan. Aku berdiri lalu berlari menuju halaman. Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan, yang pasti dada ini terasa plong. Lega. Aku merasa seperti dilahirkan kembali setelah menempuh perjalanan yang teramat jauh dan melelahkan.

Semarang, 15 januari 2007

26.4.07

Impoten

Bujang lapuk.
Ya, sebutan itu yang sering terlontar dari teman-teman Parjo ketika mereka berkumpul dan bercanda di sanggar. Bukan tanpa alasan kalau mereka menyindir Parjo dengan sebutan demikian. Bayangkan saja, usia sudah hampir kepala empat, kurang dikitlah. Rambut gondrongnya sudah bercampur dengan uban disana sini. Teman seangkatannya mulai dari esde, es-em-pe, es-em-a bahkan teman-teman kuliahnya sudah menikah semua. Ada yang sudah beranak dua, tiga, empat, malah sudah ada yang meminang cucu. Tinggal Parjo sendiri yang masih dengan santainya melenggang tanpa isteri. Alhasil, setiap ngumpul di sanggar atau dimanapun, ia pasti jadi bahan ledekan teman-temannya.

Parjo adalah anak sulung dari lima bersaudara. Adiknya dua perempuan dan dua laki-laki. Semua sudah berumah tangga dan sudah bisa memberikan cucu-cucu manis pada bapak dan ibunya. Adik-adiknya sampai ndower bibirnya memberi saran sama Parjo agar segera menikah. Ibu bapaknya yang sudah merenta bahkan sampai kehabisan kata dan cara membujuk anak sulungnya itu. Sehabis nasehat selesai, pasti parjo hanya akan menutup dengan sebuah kata yang memang luas penjabarannya, sabar. Padahal kurang apa si Parjo yang ndablek itu, pacar sudah punya, seorang wanita setia yang sudah menunggu kesediaan Parjo buat meminangnya. Namanya Niken. Kalau bukan wanita setia, tidak mungkin ia kuat mendampingi Parjo delapan tahun ini. Pekerjaan ada. Selain dia seorang pelukis yang sudah cukup punya nama, buku-buku sastra karangannya pun bisa ditemui ditoko-toko buku dimanapun, sampai ditoko buku loak pun pasti ada sebuah buku yang sampulnya tertera sebuah nama “Parjo Adhiluhung”. Kalau dipikir-pikir kurang apa coba.

“Kamu itu nunggu apa to le? Coba lihat adik-adikmu, temen-temenmu, semua kan sudah mendahului kamu. Apa kamu juga ndak kasihan sama Niken?” Nasehat ibu seperti ini sudah hafal menyusup ke gendang telinga Parjo. Tidak pagi tidak siang, setiap ketemu, ibunya pasti akan memberi ceramah seperti itu.
“Ya Bu, saya tahu. Makanya saya minta semua sabar. Saya pasti akan menikah kok.” Jawaban Parjo pun pasti akan selalu demikian. Sekiranya lebih sopan, pasti dia sudah merekam kata-kata itu, agar setiap ada orang yang bertanya, Parjo tinggal mencet tombol play.
“Dari dulu sabar sabar terus. Memangnya apa yang kamu tunggu?”
“Saya menunggu mukjizat Bu.”
“Mukjizat apa le? Mbok jangan aneh-aneh gitu. Memangnya kamu itu nabi, mau nunggu mukjizat segala.”
“Ya pokoknya mukjizat. Sudah ya bu, saya pergi dulu. Ada lukisan yang harus saya selesaikan di sanggar.”

******************

Di sanggar pun pasti akan terjadi kehebohan ketika Parjo datang.
“Hoi… si Bujang Lapuk datang nih!” Seru Imron menyambut kedatangan Parjo.
Yang disambut malah cuek bebek nginjek tembelek. Nyelonong masuk begitu saja tanpa peduli apa kata teman-temannya. Ibaratnya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Sebenarnya ejekan teman-teman Parjo bukan tanpa alasan. Mereka berbuat demikian agar Parjo segera tersadar untuk melaksanakan kodratnya sebagai seorang manusia. Suatu kali bahkan ada teman sanggar yang membuat lukisan Parjo bersama Niken sedang duduk dipelaminan. Bukan pujian yang didapat, eh malah lukisan itu dirobek-robek Parjo hingga tak berbentu lagi. Pada akhirnya mereka selalu kalah dengan sikap Parjo yang seperti berhati batu.

Sebenarnya, pada kenyataannya tidak demikian. Parjo tak secuek seperti yang mereka kira, bapak ibu, adik-adik Parjo, Niken atau teman-teman Parjo. Setiap malam menjelang tidur, Parjo selalu termenung disisi dipan, tempat tidurnya. Mau tak mau sebenarnya perkataan dan ejekan teman-temannya melukai hatinya pula. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sudah seharusnya Parjo menikah dan punya anak. Parjo hanya bisa mendesah. Kasihan Niken, sampai saat ini aku masih terus membuatnya menderita, rutuk batin Parjo pedih.

Saat-saat demikian, ia biasanya akan memandangi sebuah lukisan besar yang tergantung di tembok diatas tempat tidurnya. Sebuah lukisan burung elang bersayap besar sedang terbang dengan gagahnya melewati awan-awan putih yang membentag dilangit luas. Diparuhnya, seekor ikan besar menggelepar pasrah. Lukisan itu sudah sembilan tahun lamanya menempel didinding kamar Parjo. Lukisan itu dibuat ketika dia pulang dari Manado, selepas mengikuti sebuah pameran lukisan selama sepuluh hari disana. Dan lukisan itulah yang menjadi saksi bisu dari semua gejolak pikiran yang selama ini menggelayuti dada Parjo. Menyebabkan ia diejek teman-temannya sampai sekarang sebagai si Bujang Lapuk.

Parjo masih ingat peristiwa beberapa tahun silam situ di Manado. Ketika suatu malam ia diajak teman-temannya keliling kota, lalu mampir ke sebuah kompleks. Mereka semua masuk kamar masing-masing termasuk Parjo. Tentu saja dengan didampingi wanita-wanita aduhai penghuni kompleks itu. Lalu kemudian Parjo keluar kamar paling duluan dengan meninggalkan wajah kecewa teman kencannya. Lalu Parjo terpaksa pulang lebih dahulu daripada teman-temannya. Lalu dengan diam-diam malam berikutnya Parjo mengunjungi kompleks itu lagi tanpa ada temannya yang tahu. Lalu kejadian kemarin malam terulang lagi. Parjo keluar kamar dengan meninggalkan wajah kecewa teman kencannya.

Lukisan burung elang itulah yang tercipta ketika Parjo sudah kembali ke Jogja dan berkumpul dengan teman-teman sanggarnya kembali.

****************************

Suatu pagi ketika Parjo mengantar Niken ke tempat kerja, sebuah kantor advokat lumayan terkenal di Jogja, mereka menyempatkan sarapan bubur ayam dipinggir taman UGM.
“Mas Parjo sudah punya rencana”, tanya Niken sambil mengunyah bubur ayam kesukaanya.
“Rencana apa maksudmu?” Jawab Parjo acuh tak acuh.
“Ya rencana masa depan kita Mas. Pikiran Mas Parjo dah terbuka belum?”
“Terbuka terus dari dulu…”
“Aku serius Mas…”
“Aku duarius.”
“Huh!”
“Napa?” Parjo memandang wajah Niken yang cemberut sambil tersenyum tipis. “Ya tentu saja ada rencana masa depan dong Ken. Masak aku mau begini terus…”
“Ya. Terus kapan?”
“Sabar. Orang sabar kan disayang Tuhan.”

Kalo Parjo sudah ngomong sabar sabar, Niken malas mau melanjutnya pembicaraan. Dia memilih diam sampai tiba ditempat kerjanya.

*********************

Malam terasa sepi. Diluar rintik hujan berjingkat-jingkat diujung-ujung daun yang kedinginan. Parjo melirik jam weker diatas meja kerjanya. Jam sebelas lebih empat puluh menit. Ahhh! Parjo menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
Parjo bangkit lalu berjalan menuju almari dipojok kamar. Dibukanya almari lalu mengambil sesuatu dari bawah lipatan baju-bajunya. Sebuah kepingan vcd. Dengan gontai Parjo menghampiri vcd player dibawah meja tivi. Ditekannya tombol open lalu dimasukkan kepingan vcd itu. Parjo kembali ke duduk diatas kasur. Diambilnya remote lalu dihidupkan tivinya.

Beberapa detik kemudian, dilayar tivi muncul gambar-gambar aneh yang ternyata adalah tontonan khusus dewasa. Ya seperti itulah, tidak perlu dijelaskan lebih lanjut pasti sudah pada tahu. Dengan seksama dan penuh konsentrasi Parjo melihat apa yang tersaji dilayar tivi. Sesekali ia melirik sarung yang sedang dipakainya. Diam. Lebih konsentrasi lagi Parjo berusaha menikmati setiap adegan dilayar. Lalu ia melirik sarungnya lagi. Diam. Tak ada reaksi.

Sudah hampir empat puluh lima menit berlalu, tapi yang diharapkan Parjo tak terjadi juga. Brengsek!!! Parjo menggeram. Ia bangkit dan mematikan tivi dan vcd playernya. Sejurus kemudian ia sudah berada didepan computer. Jarinya-jarinya menekan tombol-tombol keyboard dengan kasar.

Jika aku tak perlu kencing tiap pagi agar aku tetap hidup,
Pasti kelamin ini sudah aku sumbangkan di museum Sangiran
Biar orang menyebutnya itu kelamin manusia purba
Biar orang tak pernah tahu aku pernah punya kelamin itu

Jika aku tak perlu burung ini agar aku bisa disebut lelaki,
Sudah kupotong dan kutempeli sayap dikanan kirinya
Biar ia terbang tinggi mencari teman – teman seperburungan
Biar ia tak mlempem terus dipangkal pahakuku

Ah, tapi apa aku ini masih bisa disebut lelaki
Meski masih ada benjolan diselangkanganku
Sedang aku tak mampu sekedar menaklukkan seorang pelacur dekil
Aku juga tak sanggup mengucapkan akad pada kekasihku?

Ah!!

******************

“Tumben Mas Parjo sempat datang kerumah malem Kamis gini? Biasanya sudah numplek di sanggar bersama teman-teman Mas?”
“Ya memang. Aku terpaksa bolos meeting karena ada hal yang perlu aku omongin sama Niken.”
“Wah peningkatan nih.” Niken tersenyum.
“Peningkatan apa?”
“Biasanya kan mas Parjo gak pernah memulai untuk ngomong terlebih dulu, tapi malam ini tumen banget. Pasti ada yang penting nih…”
“Ya begitulah.”
“Ada apa Mas, jadi deg-degan nih…”
“Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, selama delapan tahun ini aku sudah membuatmu menderita dalam sebuah penantian yang tak ada batasnya. Kamu dengan setia mendampingi si Bujang Lapuk yang ndablek ini. Tapi sungguh, aku tak ada maskud demikian. Menelantarkanmu dalam kesia-siaan. Aku tak bisa memungkiri kenyataan bahwa aku memang sangat menyayangimu lebih dari yang kamu tahu meski aku belum punya keberanian untuk menjadikanmu sigaring nyawaku. Aku berterima kasih padamu karena kamulah semangat yang membuatku tetap bertahan hidup meski dalam kegamangan yang selalu menghantuiku.”

Parjo menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Sebenarnya ada satu rahasia yang selama ini aku pendam yang tak diketahui siapapun. Kamu, orang tuaku, adik-adikku bahkan temen-temen dekatku sekalipun. Rahasia itulah yang membuatku selalu minder, tak pede, kehilangan tekad untuk menjadikanmu permaisuri hatiku. Ini mungkin terasa konyol setelah kamu mendengarnya. Kamu mungkin akan tertawa ngakak lalu terbirit-birit pergi meninggalkanku.”
“Apa sebenarnya yang terjadi Mas? Selama ini Mas Parjo selalu bungkam setiap aku tanya apa alasannya. Aku ingin tahu, tapi aku juga tak bisa memaksa jika Mas parjo memang belum siap untuk melakukan apapun. Kesetiaan ini sebagai bukti bahwa aku tak main-main dengan Mas Parjo. Aku cuek apa kata orang tentang aku, tentang kita, karena aku yakin suatu saat Mas Parjo akan melakukan apa yang terbaik buat kita.”
“Ya Niken. Aku memang salah selama ini. Disatu sisi aku mau jujur tentang diriku tapi disisi lain aku takut akan kehilanganmu setelah kejujuranku. Aku memang pengecut.”
“Sudahlah Mas. Sekarang katakanlah apa yang ingin kamu katakan.”
“Kamu tahu kan lukisan burung elang dikamarku?”
“Ya. Memang ada apa dengan lukisan itu?”
“Sebenarnya dalam lukisan itulah semua rahasiaku berada.”
“Maksudnya?”
“Aku malu mengatakannya Ken.”
“Mas…” Niken menggenggam jemari Parjo yang tiba-tiba terasa dingin. “Kita kan sudah kenal tidak cuma seminggu, sebulan atau setahun, kenapa mesti malu untuk berkata jujur? Katakan saja Mas, insya Allah aku akan mendengarnya dengan arif meskipun itu menyakitkan buat aku.”
“Terima kasih Ken.” Parjo menatap bola mata Niken yang begitu jenih dan bercahaya.
“Burung elang dalam lukisan itu adalah simbol paling pribadiku, kelelakianku dan kejantananku yang aku rasa telah hilang entah kemana. Selama kurun waktu ini aku berusaha mencari dan menemukan, tapi aku tak tahu harus mendapatkannya dimana. Kamu pasti tak akan pernah tahu bagaimana rasanya seorang lelaki tanpa kelelakian sehingga ia tak pantas disebut seorang lelaki. Ia hanya merasa seperti sampah yang teronggok di tong dan menyebarkan bau yang tidak sedap.”
“Ken….” Parjo menggenggam erat jemari Niken yang lembut. “Aku impoten…..”
“Hahaha…..” Niken tertawa ngakak. Parjo bengong, tak bisa memaknai arti tawa Niken yang lepas itu.
“Kenapa kamu malah tertawa Ken? Aku tahu, kamu pasti akan menertawakan ini.”
“Jadi karena rahasia itu selama ini hati Mas Parjo berubah menjadi batu?”
“Kenyataan itulah yang menyiksaku selama ini. Aku takut tak akan bisa membahagiakan hidup. Kamu terlalu berharga untuk bersanding dengan seorang lelaki yang tak pantas disebut lelaki ini.”
“Darimana Mas tahu kalo impoten, sedang selama ini kita tak pernah melakukan apapun? Atau jangan-jangan Mas punya wanita lain ya…”
“Bu-bukan seperti itu Ken…”
“Lalu…?”
“Jujur ya, sebelum aku kenal kamu, waktu aku pameran ke Manado, aku pernah terbujuk teman yang membawaku ke sebuah kompleks. Aku masuk kamar dengan seorang wanita. Tapi ternyata aku tak bisa melakukan apapun. Aku coba lagi lain waktu, tetap saja demikian. Sebagai lelaki normal, mungkin kejadian-kejadian itu akan membawaku ke sebuah petualangan, tapi aku tak bisa melakukan apapun. Sampai saat inipun aku belum bisa merasa menjadi lelaki meskipun aku melihat hal-hal yang seharusnya bisa membuatku menjadi lelaki…”
“Alhamdulillah….”
“Loh kok Alhamdulillah Ken? Kamu suka punya calon suami loyo sebelum bertanding?”
“Patut disyukuri Mas. Kalau saja Mas Parjo waktu itu normal seperti lelaki lain, sudah tentu Mas akan tidur dengan pelacur itu. Artinya tahu kan? Zina. Itu dosa Mas. Syukurlah waktu itu Mas loyo. Hahahaa….”
“Jangan menertawakan aku dong Ken.”
“Nggak kok Mas. Aku tertawa karena seneng. Pertama, Mas mau jujur sama aku. Kedua, ternyata mas bener-bener masih perjaka ting-ting…”
“Perjaka apa? Perjaka loyo….”
“Mas Parjo, aku sayang kamu seutuhnya. Dengan adanya kelebihanmu dan semua kekuranganmu, aku menerima semuanya. Apapun itu. Aku tak akan mundur atau pergi meninggalkanmu hanya karena kejujuranmu yang aneh ini. Sebaliknya, aku akan menjadi ikan yang menggelepar diparuhmu, karena cengkeramanmu yang begitu kuat.”
“Tapi cakarku gak ada kukunya sama sekali Ken.”
“Mas gak usah banyak bicara ya, pokoknya besok Mas dan keluarga datang kerumah melamarku lalu kita tentukan hari pernikahan kita.”
“Tapi aku tetap belum bisa menjadi lelaki kan.”
“Ahh, itu kan belum cukup bukti.”
“Sudah banyak bukti!”
“Belum!!”
“Sudah!!”
“Belum. Masih ada satu yang belum dilakukan untuk membuktikan kebenaran itu…”
“Apa?!”
“Mas belum melihatku tanpa pakaian kan?”
“Hah!!”
“Kenapa?!”
“Kapan? Sekarang?!”
“Heit! Tunggu tanggal mainnya dong.”

Parjo seperti baru saja lepas dari lingkaran api yang selama ini mengurungnya setelah mengungkapkan kujujuran pada Niken. Angin tiba-tiba berhembus begitu lembut merasuk ke paru-paru Parjo yang terasa begitu bersih. Direngkuhnya tubuh Niken dan dibenamkannya dalam dadanya yang bidang. Bintang-bintang diatas sana seakan-akan sedang tersenyum melihat kebahagiaan Parjo malam ini.

****************

Sebulan kemudian, disebuah koran, di kolom hiburan terpampang wajah Parjo bersanding dengan Niken Ayu. Dibawah foto tertulis dengan jelas, Bujang Lapuk Itu Akhirnya Menikah. Tanpa siapapun tahu tentang rahasia yang sesungguhnya dan tanpa ada yang tahu bahwa dimalam pengantin mereka, Parjo telah membuktikan bahwa ternyata ia bisa menjadi seekor elang yang kekar dan membuat Niken menggelepar dalam cengkeramannya yang kuat. Tanpa ada yang tahu, kecuali Parjo dan Niken serta lukisan burung elang di kamar Parjo.


Semarang, 16 Januari 2007