Showing posts with label heart. Show all posts
Showing posts with label heart. Show all posts

9.9.08

Come Back

Hmmm...
Sekian lama bersemedi membuatku seakan kehilangan jati diri di dunia blog yang semakin meriah ini. Uhh jadi lupa tombol mana yang mesti di pencet pertama kali. Hehehe...
Maap ya aku sendiri gak tau kenapa bisa sekian lama hengkang dari dunia kedua ini (baca: blog). Berbagai faktor yang menyebabkan jari-jari ini menjadi freeze untuk menari-nari diatas kibod yang ternyata susunan tuts-nya masih sama, hanya susunan hati ini yang agak berubah. Cieeee..

Sudahlah lupakan semua yang kemaren 'nggubeti' kesadaran ini, mudah-mudahan aku bisa kembali hidup dan eksis disini dengan sedikit kekuatan dan berharap akan kembali dengan kekuatan penuh, berlari dan berselancar mengarungi dunia blog yang sekian lama tertinggalkan dalam kehampaan.

Ehem... wah banyak yang mesti dikerjakan nih. Bersih-bersih ruangan yang berdebu bahkan banyak sarang laba-laba dimana-mana. Mudah-mudahan aja gak jadi tempat nongkrong makhluk halus. Untuk mengantisipasinya, tadi dah tak bacain ayat kursi waktu mau masuk rumahku.

Yeeeyeye... I'm coming back!!!!

8.4.08

Cinta di Udara


Pernah jatuh cinta? Ehm pastinya pernah kan, entah itu cuma lecet2 ato sampe patah tulang karena jatuhnya dari lantai 5. Wuh! Entah itu diterima ato bertepuk sebelah tangan. Entah itu langgeng ato cuma seumur jagung. Cinta memang aneh, misteri dan tak terdefinisi. Cinta ada dimanapun, kapanpun, milik siapapun dan entah dengan sebab musabab yg bagaimanapun. Cinta bisa bikin kita tersenyum bahagia tapi bisa juga bikin kita menangis sedih.

Pernah jatuh cinta di dunia maya? Di blog, forum, chatting, milis ato apapun pernak pernik dunia cyber yg membuat intensitas persuaan para netter semakin sering.
.......................

Ga salah dan ga perlu dipermasalahkan lah jika memang ada yang mengalami demikian. Menurutku sih masih wajar ketika terbersit obsesi lain dari sekedar kata-kata yang terucap lewat keyboard. Bukankah rasa cinta bahkan sayang bisa hadir dimanapun tak ada batasan jarak dan waktu.

Ketika temen ngeblog kita rajin datang sembari ninggalin komen2 yg asik dan 'aneh' ato temen chatting yg selalu menyapa waktu kita online, saling cerita, curhat dan kelakuan2 'aneh' laen khas dunia chatting. Ato temen ngeforum yg rajin bikin thread menarik dan smart tetapi dia tak segan2 memuji posting kita yg bahkan amburadul. Hehe. Bukan hal yang gak mungkin ketika diantara 'remang2' dunia maya itu timbul suatu perasaan lain selain suara2 dari seberang yg berkata, "hello dunia maya, apakah kau bisa menjadi dunia nyata?"

Temennya temenku, yang anak Semarang punya suami org Banten yang didapat dari dunia perchatingan. Hebat kan? Ya itu cuma salah satu kisah, setiap orang punya pandangan masing-masing.

Apa yang perlu kita pikirkan kemudian ketika dua hati bertemu menembus layar monitor? Karena dunia cyber itu universal, tak ada batasan jarak dan waktu maka 60% pertemuan itu akan dipisahkan jarak (tidak satu kota). Inilah yang butuh konsekuensi ketika harus menjalani kisah cinta di inet. Komunikasilah yg berperan penting selain kepercayaan dari kedua pihak. Bagaimanapun caranya terkadang hal yang tak mungkin bisa terlaksana ketika orang sedang dimabuk asmara. [Weduwh... dalem banget dab. Ngueri deh!].

Panjang dikali lebar sama luas. Udah kebanyakan ngelantur tar pada males mampir. Kalo ada jarum yang patah jangan ditaruh diatas kursi, kalo ada kata yg salah jangan laporkan pada polisi.
Billahitaufiq wal hidayah wa inayah.

Kutulis disuatu senja antara perjalanan Semarang - Kudus.
Diajeng.... jika jarak dan waktu bukan halangan biarkanlah Tuhan mempertemukan dan menjaga kita.

27.3.08

Pengin Menikah

Umur terus bertambah, jatah hidup makin berkurang. Mau atau tidak kehidupan akan terus berputar dan kita mesti mengikuti didalamnya. Banyak hal yang belum kulakukan untuk memenuhi kodratku sebagai seorang manusia normal yang harus melanjutkan keturunan, yaitu menikah. Aku secara pribadi sering timbul ketakutan ketika berpikir seperti apa ya jodohku, bagaimana nanti setelah menikah, apakah aku bisa langgeng bersamanya??
Mengapa kita takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita beralasan ada resiko yang harus dipikul setelah menikah, bukankah perzinaan juga punya segudang resiko? Bahkan resikonya lebih besar. Bukankankah melajang ada juga resikonya?
Memang melajang bisa juga menjadi dilema. Padahal aku semakin beranjang menua. Melihat orang lain yang sudah melaksanakannya, duh kadang pengin segera dan menyingkirkan semua pikiran buruk tentang kehidupan setelah menikah.
Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.
Ya Allah berikanlah kekuatan untukku melangkah melaksanakan amanah-Mu. Tapi yang penting tunjukkanlah jodohku. Hehehe... Jomblo kadang enak tapi banyak gak enaknya juga. *Berdoa mode on* Ya Allah kirimlah aku kekasih yang baik hati yang mencintai aku apa adanya... [The Rock bangetzzz!]
Banyak alasan padahal ia mampu untuk menikah. Ternyata semua alasan itu tidak berpijak pada fondasi yang kuat, ada yang beralasan untuk mengumpulkan bekal terlebih dahulu, ada yang beralasan untuk mencari ilmu dulu, dan lain sebagainya.
Duh aku gak punya alasan lain kecuali memang jodohnya belum ada atau belum datang ya....

Beberapa hal yang mungkin bisa menguatkan niatku untuk segera menikah...


Menikah itu Fitrah
Allah Taala menegakkan sunnah-Nya di alam ini atas dasar berpasang-pasangan. Wa min kulli syai’in khalaqnaa zaujain, “dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan” (Adz-Dzariyaat: 49). Ada siang ada malam, ada laki ada perempuan. Masing-masing memerankan fungsinya sesuai dengan tujuan utama yang telah Allah rencanakan. Tidak ada dari sunnah tersebut yang Allah ubah, kapanpun dan di manapun berada. Walan tajida lisunnatillah tabdilla, ” dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah” (Al-Ahzab: 62). Walan tajida lisunnatillah tahwiila, “dan kamu tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu.” (Al-Isra: 77)
Dengan melanggar sunnah itu berarti kita telah meletakkan diri pada posisi bahaya. Karena tidak mungkin Allah meletakkan sebuah sunnah tanpa ada kesatuan dan keterkaitan dengan sIstem lainnya yang bekerja secara sempurna secara universal.

Manusia dengan kecanggihan ilmu dan peradabannya yang dicapai, tidak akan pernah mampu menggantikan sunnah ini dengan cara lain yang dikarang otaknya sendiri. Mengapa? Sebab, Allah swt. telah membekali masing-masing manusia dengan fitrah yang sejalan dengan sunnah tersebut. Melanggar sunnah artinya menentang fitrahnya sendiri.

Bila sikap menentang fitrah ini terus-menerus dilakukan, maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia itu sendiri. Secara kasat mata, di antara yang paling tampak dari rahasia sunnah berpasang-pasangan ini adalah untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dari masa ke masa sampai titik waktu yang telah Allah tentukan. Bila institusi pernikahan dihilangkan, bisa dipastikan bahwa mansuia telah musnah sejak ratusan abad yang silam.

Allah berfirman fankihuu, dengan kata perintah. Ini menunjukan pentingnya hakikat pernikahan bagi manusia. Jika membahayakan, tidak mungkin Allah perintahkan. Malah yang Allah larang adalah perzinaan. Walaa taqrabuzzina, dan janganlah kamu mendekati zina (Al-Israa: 32). Ini menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan adalah haram, apalagi melakukannya. Mengapa? Sebab Allah menginginkan agar manusia hidup bahagia, aman, dan sentosa sesuai dengan fitrahnya.

Mendekati zina dengan cara apapun, adalah proses penggerogotan terhadap fitrah. Dan sudah terbukti bahwa pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana. Tidak saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia, melainkan juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri. Tidak jarang kasus seorang ibu yang membuang janinnya ke selokan, ke tong sampah, bahkan dengan sengaja membunuhnya, hanya karena merasa malu menggendong anaknya dari hasil zina.

Dalam surat Ar-Rum: 21, Allah menyebutkan pentingnya mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta. Ini menunjukkan bahwa dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari bukti kekusaan Allah swt. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah saw. lebih menguatkan makna pernikahan sebagai ibadah, “Bila seorang menikah berarti ia telah melengkapi separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada paruh yang tersisa.” (HR. Baihaqi, hadits Hasan)
Belum lagi dari sisi ibadah sosial. Dimana sebelum menikah kita lebih sibuk dengan dirinya, tapi setelah menikah kita bisa saling melengkapi, mendidik istri dan anak. Semua itu merupakan lapangan pahala yang tak terhingga. Bahkan dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga moralnya dari hal-hal yang mendekati perzinaan. Alquran menyebut orang yang telah menikah dengan istilah muhshan atau muhshanah (orang yang terbentengi) . Istilah ini sangat kuat dan menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum menikah.

Bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasan Allah, membantu tercapainya sifat takwa. dan menjaga diri dari tindakan amoral, maka tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ternyata Anda setiap hari bisa menegakkan ibadah shalat, dengan tenang tanpa merasa terbebani, mengapa Anda merasa berat dan selalu menunda untuk menegakkan ibadah pernikahan, wong ini ibadah dan itupun juga ibadah.

Pernikahan dan Penghasilan
Seringkali kita mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil. Setiap hari ia harus memengeluarkan biaya yang cukup besar dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia?

Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup.” Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut).
Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.” (HR. Turmudzi dan Nasa’i)

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.” (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun pernikahan.
Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.

Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita pindah dari pengertian “pernikahan sebagai beban” ke “pernikahan sebagai ibadah”. Seperti kita merasa senang menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah telah tiba “jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada Allah”. Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah tangga sejati.
Amien Amien Yaa Rabbal 'Alamien.

15.3.08

Cinta??? Hahaha...

Jika kau bertanya tentang cinta....
Siapa yang akan menjawabnya? Karena ketika cinta ditanyakan, dialah juga jawabannya. Cinta bukan untuk ditanyakan, tapi untuk dirasakan, dinikmati, diresapi, didampingi, diajak berbagi, diajak berencana, dimintai pendapat dan bertukar cerita...

Sungguh... ketika kita sakit, cinta bisa jadi penawarnya. Ketika kau lelah, cinta bisa penyegar dari letih tulangmu. Ketika kau jatuh, cinta bisa membangkitkanmu dengan semangat baru yang lebih berkobar. Ketika kau kehilangan arah, dia bisa menunjukkan jalan pulangmu.

Namun dibaliknya, cinta bisa juga menghancurkanmu. Meluluhlantakkan raga dan jiwamu. Membakar keping cita pada pilar hatimu. Yaa... ketika kau pongah didepan cinta, ketika kau tak jua menghargai cinta, ketika kau merasa tak butuh cinta. Ketika kau merasa bisa hidup tanpa air cinta yang senantiasa bisa menyejukkan dan meredam amarahmu.

Sekarang, pilihlah apa yang bisa membuat nyaman hidupmu...

31.1.08

Ketemu Temen Lama


Pas lagi duduk depan komputer tiba-tiba hapeku berbunyi, nada sambungnya pasaran bangetz, maklumlah hape murahan. Hehehee... Wah nomer Jakarta. Pertama aku mikir apa ni dari SBY yang mau ngajak dinner bareng ya? (weeeew... mimpi kali ye!) Ya udah aku angkat aja hapenya tanpa lupa mencet tombol YES yang artinya aku menerima telpon itu. Suara seorang lelaki (Duh lelaki lagi, kapan ya nerima telpon dari cewek. Hikz).

"Assalamu'alaikum....", suara dari seberang sana. Hemmm, sepertinya cukup aku kenal tapi agak-agak lupa getoh.
"Wa'alaikum salam...", aku jawab dengan suara mantap, top markotop.
"Piye dab kabare?", sapa samwan diseberang sana.
Weleh ternyata wong jogja juga, nomernya tok yang berkode 021.
"Sinten nggih?", tanyaku sok sopan tapi memang aku sopan ding.
"Guayamu wi lho rak nguwati. Karo konco lali, kurang ajiar", weh orang itu kok jadi sewot.

Bla... bla... bla...

"Oalah Mas Bandi? [ngekek!] Lha tak kiro sopo ik. Sori sori aku lali..."
"Jebule pikunmu ki rak ilang-ilang to malah tambah parah..."
Asem ik aku dibilangin pikun. Ya meskipun aku tak berontak dengan kata-kata itu, hehe.. mang agak-agak pikun gitu.

Perlu diketahui Mas Bandi {yang fotonya ada lingkaran merah} adalah kakak kelasku waktu SMA dulu. Aku kelas I dia kelas II. Waktu dia kelas III, Mas Bandi gak jadi kakak kelasku lagi, soalnya aku gak naik kelas dan langsung DO. [Weleh... tenane dab?]. Dulu sih memang masih sempet ada kontak ma dia yang nota bene dia pindah di Jakarta setelah lulus. Tapi entah karena suatu sebab apa [agak-agak lupa], kontak terputus begitu saja padahal dia kakakku yang paling baik dan temen2 segerombolan lain pun lenyap. Uhh... habis posting tentang persahabatan langsung ketemu sahabat, bener2 mukjizat.

Bla... bla... bla...

Akhirnya setelah ngobrol cukup lama via phone, kami memutuskan untuk melanjutkan via chat di YM. Ketik demi ketik berlalu. Terus dan terus. Tapi mohon maaf ya, apa yang kami ketik tidak boleh dipublikasikan untuk umum, yang jelas sore ini jadi momen pertemuanku dengan teman lama. Nice day....

13.11.07

Kusam

Maaf... sekian lama rumah saya ini terbengkalai. Saya biarkan teronggok, kotor tak pernah disapu, banyak sarang laba-laba bahkan tanaman diteras sudah banyak yang mati. Uhhhh...

[saya hanya manusia biasa] jujur, selain punya semangat kadang-kadang sempat males juga. Pertama, capek karena banyak kerjaan. Kedua, pikiran yang suntuk sehingga ide untuk menulis seakan pergi entah kemana. Ketiga, dasar memang saya pemalas. Wkakakaka...

Blog terlantar, jarang blog walking, bikin blog saya inipun sepi pengunjung. Uhh... Tapi tak apalah ini pelajaran buat saya. Mudah2an untuk saat-saat selanjutnya saya bisa meluangkan waktu sekedar menuangkan apapun yang ada dalam benak saya. Sedikit waktu bisa menjadi berjuta-juta ide....

Hemmmhh... tunggu saya bangun dari tidur ini....

23.8.07

setelah kepergianmu

Sesungguhnya masih ada yang tertinggal
setelah kepergianmu kini....
tapi biarlah ini akan menjadi rahasiaku
terpendam didalam hatiku yang dalam
sampai waktu membukanya diatara kita

selamat menjadi sesuatu yang lain dalam hidupmu
semoga keindahan itu betul betul ada...